Bahkan
mentaripun tau bahwa kantukku akan terganggu oleh sinarnya. Hingga rasa kantuk
hebat yang kurasa sejak tadi, dipaksa tenggelam. Agar aku tidak tertidur dalam
ruangan ini. Terima kasih mentari. Kau tidak hanya menghangatkan ragaku, kau
pun menghancurkan rasa kantukku.
Namun
aku tersadar. Ada hal lain selain mentari. Dan rupanya aku juga harus berterima
kasih pada BINTANG. Karena mendengar kata itu dibahas, mataku seolah terjaga
dari tidur panjangnya. Yang terpikir dibenakku: Ada apa dengan bintang?
Mengapa tiba-tiba bintang? Haruskah bintang selalu dibahas? Bintang yang mana yang sedang menjadi bayangan semua kepala bernyawa di kelasku?? Dan tanda tanya lainnya. Hingga saat kumembuka mata, dihadapanku telah terpajang sebuah bintang. LCD itu menampilkan banyak gambar yang belakangan ini dosenku mengatakan, itu jagad raya dan sesuatu yang bersinar itu bernama BINTANG.
Mengapa tiba-tiba bintang? Haruskah bintang selalu dibahas? Bintang yang mana yang sedang menjadi bayangan semua kepala bernyawa di kelasku?? Dan tanda tanya lainnya. Hingga saat kumembuka mata, dihadapanku telah terpajang sebuah bintang. LCD itu menampilkan banyak gambar yang belakangan ini dosenku mengatakan, itu jagad raya dan sesuatu yang bersinar itu bernama BINTANG.
Oh
BINTANG..BINTANG..
Aku
tak peduli materi yang sedang dibahas apa, karena kupikir sangat abstrak, hanya
membuat migran kepala dan kram perut. Sudah kubayangkan bagaimana rasanya. Yang
kutau pasti, iru sangat membosankan. Sains memang menarik, hanya saja aku
sedang malas mendengar banyak teori yang belum pasti kebenarannya. Apalagi yang
menyangkut Agama..o.O
Sains
dan Agama.
Ada
yang bilang sains dan Agama tidak bisa dipisahkan, namun banyak pula yang beranggapan
bahwa sains dan Agama tidak boleh disatukan. Kepercayaan versus fakta, itu
konteks yang berbeda.
Helloouu..apa
lagi itu. Kenapa sains tidak mau dikaitkan dengan Agama?? Entahlah. Meski sebenarnya
ada jutaan pertanyaan yang tersangkut di otakku, aku lebih memilih diam dan
hanya mendengarkan dosenku berkata apa. Ingin rasanya kudebatkan dengan
pengetahuan yang kumiliki. Namun sekali lagi. Aku memilih diam. Diam bukan
berarti pasrah dan percaya bergitu saja. Aku diam dengan ribuan tanda tanya. Karena
aku sadar, pengetahuanku hanya seujung kuku. Atau setetes air di samudra, atau
mungkin hanya sepersekian mili embun yang ada di bumi.
Yang
kutahu pasti hanyalah:
Beliau
mengatakan BINTANG. Kurasa mendengar kata BINTANG saja cukup jauh lebih baik
untukku daripada teori-teori itu..^_^
*ditulis
pada hari Senin tanggal 21 Januari 2013, saat kuliah KPIP, GKU Barat 9134

Tidak ada komentar:
Posting Komentar