Terhitung enam tahun lebih peristiwa
Semburan Lumpur lapindo terjadi. Namun permasalahannya belum terselesaikan hingga
saat ini. Masih ada korban Lapindo yang belum mendapatkan kembali haknya. Siapakah
yang seharusnya membayar semua ganti rugi peristiwa ini? Awalnya peristiwa ini
dianggap bencana alam, karena semburan terjadi selang dua hari setelah
peristiwa gempa di Jogja. Sehingga pemerintah perlu ikut andil dalam membayar
ganti rugi peristiwa ini. Kita tahu bahwa dana yang digunakan pemeritah untuk
mengganti rugi itu adalah dana dari APBN, dimana dana tersebut didapat dari
pajak masyarakat dan lainnya. Pada intinya masyarakatlah yang membayar ganti
rugi tersebut. Semburan Lumpur Lapindo tidak hanya merampas harta benda
masyarakat setempat, juga merugikan seluruh masyarakat di Indonesia. Padahal analisis
peristiwa tersebut tidak sepenuhnya dinyatakan sebagai bencana alam akibat
pengaruh gempa Jogja. Karena setelah dilakukan beberapa kajian analisis oleh
para ahli, ditemukan faktor kesalahan eksplorasi didalamnya.
Minggu, 10 Maret 2013
Jumat, 08 Maret 2013
Diposting oleh
Winda Diana S
Duduk
di depan sekre MG seolah duduk di bangku SMA. Aku rindu posisi duduk seperti
ini. Dengan meja yang berantakan. Dua botol air mineral setengah penuh
terpajang, lebih tepatnya berdiri kokoh sekitar 20 cm dari tangan yang sedang
kugerakkan ini. Ada dodol garut di dekatnya. Entah siapa yang menaruhnya
disitu. Buku warna biru yang bertuliskan “Bazaar Art Jakarta” juga tergeletak
tak bernyawa di samping kiri bukuku. Ditambah gulungan kertas di atas buku biru
itu, yang semakin membuat meja berantakan. Satu lagi. Posisi CPU yag menyerong
membentuk sudut 45 derajat dari posisi horisontal terhadapku. Dan pada salah
satu sisi yang menghadapku tertempel kertas HVS bertuliskan:
“Bro!!
Aku butuh tulisanmu.
Aku
ingin kau menulis dengan mesinku.
Aku
rindu tulisanmu Bro!!”
(KomputerMG)
Senin, 18 Februari 2013
Sanitary Landfill..??
Diposting oleh
Winda Diana S
Latar Belakang Masalah
Keberadaan sampah berbanding lurus dengan waktu. Ibarat
rumus kecepatan linier dalam fisika, nilainya akan semakin naik seiring waktu
dan ditandai dengan percepatannya yang selalu positif. Begitu juga dengan
sampah. Semakin lama, sampah bukannya semakin berkurang melainkan semakin
memenuhi permukaan bumi. Terlebih manusia sebagai produsen sampah terbesar,
populasinya semakin limit mendekati tak hingga. Inilah yang menjadi alasan
proyek yang benama “sanitary landfill”
muncul.
Selasa, 12 Februari 2013
Ketika Sendiri
Diposting oleh
Winda Diana S
Libuurrr,liburrr
kuliah, tapi berangkat ke kampus masih belum libur, dan kurasa tidak akan libur
sebelum aku lulus dari kampus ganesha ini. Sekarang aku hanya sedang
mencorat-coret lembaran putih, agar ternoda dengan tulisan-tulisan tak jelasku.
Bingung harus bagaimana. Hujan lebat mengguyur kota Kembang sore ini. jadwal ke
kampusku terpaksa ditunda beberapa menit hingga hujan sedikit reda. Bukannya aku
takut untuk menerjang hujan, hanya saja aku berpikir. Tujuanku pergi ke kampus
untuk menjaga pertandingan, mengamankan pemain yang jatuh di arena. Kalau aku
sendiri tidak aman, bagaimana mungkin bisa mengamankan orang lain. Sedikit mengingat
prinsip MEDIK:
Amankan
penolong dulu, baru amankan korban.
Ketika BINTANG Membuatku Terjaga
Diposting oleh
Winda Diana S
Bahkan
mentaripun tau bahwa kantukku akan terganggu oleh sinarnya. Hingga rasa kantuk
hebat yang kurasa sejak tadi, dipaksa tenggelam. Agar aku tidak tertidur dalam
ruangan ini. Terima kasih mentari. Kau tidak hanya menghangatkan ragaku, kau
pun menghancurkan rasa kantukku.
Namun
aku tersadar. Ada hal lain selain mentari. Dan rupanya aku juga harus berterima
kasih pada BINTANG. Karena mendengar kata itu dibahas, mataku seolah terjaga
dari tidur panjangnya. Yang terpikir dibenakku: Ada apa dengan bintang?
Langganan:
Postingan (Atom)
